« 2005-10 | HomePage
| 2005-12 »
11/26/2005
Ha..Ha.. Aku Ditilang!
Memang benar, selalu ada pertama kali untuk semua hal. Pertama kali punya SIM, pertama kali nabrak, pertama kali masuk tol luar kota dengan kecepatan makimum 120 km/jam, pertama kali lewat cikampek cipularang dengan kecepatan maksimum 160 km/jam, dan sekarang pertama kali ditilang. Sial.
Tadi aku sedang dalam perjalanan pulang sehabis nonton Harry Potter (Cedric cakep deh!). Sampai di salah satu perempatan di bilangan Blok M, lampu merah menyala dan aku berhenti, paling depan, jalur kanan. Tadinya aku pikir setelah hijau akan belok kanan, tapi setelah lihat lagi daerahnya, ternyata belum. Jadilah aku lurus. Di jalur kiri ada metro mini yang ternyata belok kanan. Dasar metro, biasa banget deh. Mau ke kanan ambil kiri. Setelah metro itu lewat, dengan tenang aku jalan terus. Tapi polisi di depan menyuruhku ke pinggir. Duh males deh.
"Malem Pak, kenapa ya?"
"Malem De'. De' kalau mau lurus ambil yang jalur kiri, jangan yang jalur kanan. Kalau ambil kanan berarti harus belok kanan."
"Loh emang ga boleh Pak? Bukannya jalur kanan boleh buat belok sama lurus yah?"
"Ga. Kalo ambil kanan harus belok kanan."
"Tapi metro tadi dari jalur kiri trus belok kanan gapapa?"
"Gapapa itu kan emang jalur metro mini di kiri. Bisa liat surat-suratnya?"
Sambil menyerahkan SIM dan STNK, aku bingung. Aku pikir ga salah kalau mau lurus ambil jalur kanan. Aku pikir yang seharusnya salah ya metro mini tadi, masa' mau belok kanan ambil jalur kiri, kan jadi motong jalan orang lain.
"Ehm.. Ntar bisa ikut sidang tanggal 13 ya."
"Yaahh Pak, saya harus ke Bandung, ga bisa."
"Ya siapa aja deh yang bisa dateng, ngewakilin."
"Yah siapa ya, orang tua saya pergi, ga bisa juga."
"Ya udah, apa mau denda di sini aja?"
"Berapa Pak?"
"Lima puluh ribu enam ratus."
UNTUNGnya saat itu di dompet memang benar tidak ada duit sebanyak itu. Cuma ada satu lembar sepuluh ribu, satu lembar lima ribu, dan beberapa lembar seribuan.
"Duh Pak, ga ada kalo segitu", dengan gaya mencari-cari tentunya.
"Ya udah, adanya berapa?"
"Ini Pak, cuma ada enam belas ribu."
"Ya udah deh gapapa. Ati-ati ya", sambil langsung melipat-lipat uangnya dan mengembalikan SIM serta STNK.
Setelah itu aku jalan lagi. Masih dengan kebingungan yang sama. Bingung apakah sebenarnya aku salah atau tidak. Bingung apa memang benar jalur metro mini di kiri, dan bukan masalah kalo dia belok kanan padahal sudah ambil jalur kiri. Sampai aku sadar akan sesuatu. Aku salah jalan.
Aku benar-benar tidak tahu ke arah mana mobil aku bawa. Untungnya jalanan lancar, tidak seperti kalau pagi, siang, atau sore hari. Aku putuskan ikuti saja jalannya dan menurunkan kecepatan kalau ada plang hijau, untuk melihat arah. Biasanya cara itu selalu berhasil kalau aku nyasar. Dan benar, aku kembali ke jalan yang seharusnya. Lega.
22:45 Permalink | Comments (3) | Email this
11/19/2005
Semalam di Proyek
Aku sampai di rumah jam 03.00. Menyalakan komputer dan masuk ke new post blogspirit jam 03.15. Sampai jam 03.40, aku masih belum tahu bagaimana memulainya. Aku bingung. Mungkin karena lama tidak bercerita.
Jam 03.50 masih bingung...
Aih sudahlah. Mau cerita di blog kok pusing kaya mau nulis skripsi sih? Bingung ga penting deh.
Jadi, intinya, aku baru saja menghabiskan malam di sebuah proyek bangunan di kawasan Senayan. Menarik.
Bersama seorang teman, aku memulai perjalanan dari rumah jam 20.30. Kurang lebih setengah jam kemudian, kami sampai di depan sebuah bangunan yang bahkan setengah jadi-pun belum. Setelah menunggu beberapa saat, ia muncul. Teman kami yang kebetulan sedang ditugaskan di proyek perkantoran itu kemudian menjadi tour guide "dadakan". Berseragam warna coklat muda, menenteng topi proyek warna putih di tangan kanannya, ia terlihat sedikit beda.
Setelah memarkir mobil di tempat yang seharusnya, kami diajaknya memasuki area yang biasanya tidak bisa sembarangan dimasuki oleh orang awam. Tidak perlu pakai helm proyek, karena kami berjalan di pinggir, bukan di dalam wilayah yang akan dibangun. Melewati kamar mandi pekerja, kamar mandi pegawai, dan kantor, beberapa kali kami berhenti. Temanku mengambil beberapa gambar dan tour guide kami menjelaskan apa saja yang sedang kami lihat.
Tower crane, kolom, deviasi air, "nge-cor", keet, pelaksana lapangan, manager konstruksi, beton, besi, lift orang, lift barang, adalah beberapa istilah yang ada di dalam penjelasannya, yang masih bisa kuingat sampai sekarang. Ia menjelaskan dengan antusias, bersemangat. Sama seperti dulu, waktu ia masih kuliah. Ah, aku jadi ingat lagi. Huhuhuhu...
Kemudian diajaknya kami ke parkiran gedung sebelah supaya bisa melihat lebih jelas dari atas.
Selain tanah yang menggunung yang mengeluarkan air, besi-besi, beton, dan mesin-mesin, aku melihat banyak orang. Ada para pekerja alias tukang-tukang, ada juga pengawas alias pelaksana lapangan. Warna helmnya berbeda-beda. Aku juga melihat gedung-gedung tinggi di sekitarnya, jalanan yang mulai sepi, dan lampu-lampu yang membuat malam itu menjadi terang. Setelah puas mengambil gambar, mengobrol, dan kadang diam sekedar menikmati suasana, kami kemudian meninggalkan parkiran itu.
Tempat selanjutnya, kantor. Tour guide kami yang bertugas mengecek dan membuat laporan progress pembangunan, mengajak kami ke meja kerjanya dan menunjukkan banyak foto di komputernya. Tidak hanya foto-foto proyek, tetapi juga foto-foto lebarannya kemarin.
Dari kantor, kami diajak ke mess, tempatnya menginap selama pengerjaan proyek ini berjalan. Mungkin sampai Januari, katanya. Setelah itu pindah entah ke mana, tergantung penempatan yang ditentukan kantornya nanti. Messnya dekat, tidak perlu naik mobil untuk sampai ke sana. Tidak lama di tempat itu, kami kembali lagi ke proyek untuk mencari makan.
Di depan proyek, banyak gerobak penjual makanan dan beberapa penjual minuman. Setelah duduk dan memesan makanan, kami bertiga mulai mengobrol. Kemudian seorang pegawai ikut bergabung. Satpam yang mulai sibuk mengontrol keluar masuknya truk pengangkut beton yang baru datang juga sesekali ikut menimpali obrolan kami. Semakin malam, semakin banyak orang dengan helm proyek di sekitar kami. Bapak-bapak itu ramah dan menyenangkan. Kami banyak tertawa malam itu. Sampai kami selesai makan, obrolan masih terus berlanjut.
Sudah dua jam lewat tengah malam, setelah sempat berfoto bersama, kami akhirnya berpamitan. Aku dan teman seperjalanan mengantarkan tour guide kami ke messnya, lalu pulang.
Aku senang.
"Gara-gara apa nih? Gara-gara ke proyeknya apa gara-gara ketemu orangnya?", tanya seorang teman yang pagi-pagi sudah menerima teleponku demi cerita semalam. Aku juga tidak tahu pasti. Yang aku tahu dengan jelas, aku senang. Sudah. "Ih! Lo kok kaya ABG sih ketawa2nya?". Kan aku senang =D
03:30 Permalink | Comments (1) | Email this

