01/08/2006

Aku Hidup di Bawah Sutet Juga Kok...

Sore itu aku baru saja mendarat di Yogya. Sambil rebahan, sebentar melepas lelah sebelum malamnya pergi lagi, aku memindah-mindah channel tv sampai jariku terhenti waktu melihat berita aksi mogok makan itu.

 

"Sampai kapan Mas aksi mogok makan ini dilakukan?"

"Sampe tuntutan kita dipenuhi. Kalo ga, yah kita bakal terus, sampe mati. Toh hidup kaya sekarang juga bakal mati."

 

Jadi ceritanya, aksi mogok makan dengan menjahit mulut yang dilakukan oleh beberapa orang bapak itu, dilakukan karena mereka merasa dirugikan dengan adanya transmisi tegangan ekstra tinggi di daerah rumah yang ditinggalinya. Mereka menuntut ganti rugi. Sekilas itu yang bisa aku tangkap.

 

Berita seperti itu sebetulnya sudah pernah aku dengar sebelumnya. Katanya, masyarakat yang hidup di bawah jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi alias SUTET bisa terkena banyak penyakit, mulai dari gatal-gatal sampai gangguan otak. IQ bisa menjadi sangat rendah. Belum lagi perasaan takut, terancam, tidak aman, dan entah apalagi. Itu kan listrik tegangan ekstra tinggi!

 

Bukannya sok tahu, tapi kalau melihat pengalamanku sendiri, apa yang mereka bilang lumayan membuatku bertanya-tanya, curiga malah, jangan-jangan di balik aksi demo itu ada... ah entahlah.

 

Sebagai anak "tukang listrik", sejak TK sampai sekarang aku sudah lulus kuliah, aku tinggal di komplek perumahan para tukang listrik. Sudah hampir dua puluh tahun aku tinggal di rumah yang letaknya persis di bawah jaringan SUTET. Di bawah tegangan listrik 500 KV alias 500.000 volt. Bahkan seingatku ada beberapa tiangnya yang berdiri di atas taman bermain di tengah komplek. Tapi biar begitu, alhamdulillah, sampai sekarang aku masih baik-baik saja. Kalaupun pernah gatal-gatal, itu waktu aku digigit nyamuk atau waktu aku baru saja sembuh dari sakit cacar. Alhamdulillah juga organ dalam di kepalaku masih baik-baik saja, dan semoga begitu seterusnya. Lulus sekolah dan kuliah dengan nilai yang -alhamdulillah lagi- tidak mengecewakan cukup membuatku percaya kalau IQ-ku juga masih baik-baik saja. Begitu juga dengan orang tua, adik, tetangga, dan teman-temanku, -sekali lagi- alhamdulilllah mereka juga masih baik-baik saja.

 

Tanpa bermaksud untuk takabur, aku bisa bilang, "gapapa kok hidup di bawah Sutet". Sampai sekarang aku cukup percaya kalau jaringan listrik yang meresahkan itu tentunya dibuat dengan telah melalui banyak pertimbangan dan perhitungan yang tidak main-main. Tapi aku juga tidak mau menghakimi apa yang para demonstran itu telah dan sedang lakukan. Orang bebas berpendapat toh? 

Comments

kalo loe sbagai anak tkg listrik, gw cucu tukang listrik niy,,,paan siyyy,,,,

iya, waktu gw liyat brita ituw jg gw lgsg inget loe geto,,bukannya si bocah jg rumahnya deket kayak gituan ya??? maksudnya sutress,,eh,,sutet,,,tp,,bukannya ada pengaruhnya jg ama loe??? itu loh,,,,,'panjang' badannn,,,,,hwewehehhehehehhe,,just kidding,,,,,,=P

tapi i dunno lahh,,di indonesia mah,,udah abu2 mana yg bener mana yg,,,,,,,

yg penting mari kita berantas kelaparan di indonesia,,,,alahh,,,

Posted by: inonxx | 01/08/2006

iya..
akademis emang bagus, iQ jg ga jongkok.
tapiii...
sense of.. (apa yaahhhh... duhhh susah diungkapkan dengaan kata2) itu agak kurang. hahaha..
trus suka bkomentar :
oh iya yah? gitu yah? yahhh gitu deh..
ga penting kan??

nb. itu mereka ngejait mulut pada pake benang jait aja gitu?
serem aja..

dari kepik yang lagi gundah (halah..)

Posted by: kepik | 01/09/2006

hmmmm..............

Latar belakang penulis: belasan tahun hidup dibawah jaringan SUTET............semoga objektivitas tetap terjaga.

Melihat berita itu, gw cukup terkejut. Kenapa? karena mereka rela mati hanya untuk mendapatkan ganti rugi yang mungkin hanya bernilai puluhan juta atau ratusan juta rupiah saja.(bagi gw nilai kehidupan gw tidak akan pernah terbayarkan oleh harta benda yang ada di dunia. Hidup adalah anugerah)

Pertanyaan yang timbul. Kenapa mereka segitu nekatnya? Apakah negeri ini sudah tidak bisa memberikan harapan lagi kepada rakyatnya. Apakah mereka sudah segitu pasrahnya dengan kehidupan "yang memang berat dan kejam " ini. Apakah mereka tidak berpikir, apa jadinya anak-anak mereka bila ayahnya Mati! apakah itu hanya akan menyengsarakan anaknya kelak. Apakah hanya itu satu-satunya cara agar mereka di dengar, diperhatikan, dilihat, dan dikabulkan.

Berdasarkan rasionalitas pemikiran kita, hal itu semua gak masuk akal. menukar nyawa hanya untuk sebuah harta yang gak akan kita bawa mati.

Namun, dunia ini tidak serasionalitas itu. Ada hal-hal yang gak rasional. Cinta contohnya..........banyak hal-hal tak rasional menghinggapinya.....

anyway....Jawaban atas semua pertanyaan itu...mungkin ada di elite si "penguasa" jagat perlistrikan dan tentunya perpolitikan juga. Mengapa jawaban itu ada di mereka?

Seorang rakyat....hanya meminta satu hal...dia tidak butuh penjelasan rasional akan amannya SUTET, dia hanya butuh bahwa kehormatan atas hidup dan harga dirinyanya terpenuhi.

Seorang astronout rela menghilangkan nyawanya untuk sebuah penelitian di luar angkasa. Dan tentara rela berperang demi negaranya. alasannya kehormatan.

Nah, apakah kehormatan sebagai seorang manusia yang ingin dilihat, diperhatikan, dan didengar sudah dipenuhi oleh si elite penguasa itu? pasti jawabannya BELUM.

Berilah mereka kehormatan sebagaimana mestinya. Jangan acuhkan. jangan menganggap mereka gila. jangan menganggap mereka aneh. jangan menganggap mereka matre. jangan menganggap mereka diprovokasi oleh LSM misalnya (walau tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi).

Wahai elite...datangilah, perhatikanlah, dengarkanlah, rasakanlah, berempatilah, dan lihatlah mereka, keluarga mereka, anak-anak mereka, tetangga mereka, sahabat mereka, pekerjaan mereka, dan masa depan mereka.

dari situlah kau akan mendapat jawabannya.

...Its my Humble Opinion............kritik dan saran dipersilahkan..............

Loh kok jadi serius gini yah....hehehehheeee

PEACE

Posted by: bowo | 01/09/2006

gw serem pas negeliat mulutnya bapak-bapak yang dijahit itu. pastinya ga pake obat bius kan ya. gw yang pake obat bius aja masih nyeri2 sesudahnya..

Posted by: batari | 01/10/2006

Katanya sih bibirnya udah bernanah2 gitu Bat, infeksi. Tapi kok ya nggak ditengok pemerintah sih? Sibuk benerrr

Posted by: ikram | 01/18/2006

di koran tempo ada artikel sutet lagi lho (lagi?), baca deh.. percaya nggak percaya gitu..

Posted by: upi | 01/21/2006

itu tentang sutet di luar negri, trus hubungannya sama kanker.. di koran tempo 3-4 hari yang lalu kalo gak salah.

Posted by: upi | 01/22/2006

The comments are closed.