01/31/2006
Inget Sa'!!!
"Yah berhubung gw cukup kenal lo dengan baik, gw pikir memang semalem bukan tindakan yang bijaksana".
Ok La', lagi-lagi lo bener. "Nenek" yang satu itu emang bisa aja deh. Bener kalo dia bilang udah banyak makan asam garam kehidupan. Halaahh. Kok gw bego banget yah? Kali ini gw terima celaan lo Rin, gw emang "lambat". Huh. Sok siap. Sok udah ga kenapa-kenapa. Sok udah biasa aja. Tapi ternyata salah. SALAH BESAR.
"... lebih sedih lagi.. karena kita udah tau kalo ujung2nya nggak bakalan ada apa-apa..."
Ngutip komentarnya Upi di blog ini soal film Before Sunset . Bener banget Pi. Gw lebih ngerti sekarang. Tadinya gw ga terlalu mikirin karena itu kan film. Ga terlalu mikirin karena gw belum ngalamin sendiri. Ternyata kaya gini toh. Ok.
"There are no mix messages..."
Baru denger sendiri pas nonton episode awal Sex and The City season 6 kemaren. Tuh kan...kan...kan..!!!! INGET!!! Ga cukup yah nonton Oprah sampe dua kali??!!! Diapain tuh buku? Baca!!!
"Sukurin! Udah rasain deh sekarang!"
Ngomong sendiri sejak beberapa jam yang lalu. Dalam hati tentunya. Hmmhh... It hurts. Still.
12:00 Permalink | Comments (2) | Email this
01/19/2006
"... lo ga pengen tinggi apa?"
Banyak cara untuk mendorong seseorang agar mau berusaha mengubah dirinya menjadi lebih baik. Salah satunya adalah menyindir orang itu terus - menerus. Nah, cara inilah yang saya pakai untuk adik saya.
"A', lo ga pengen kurus apa?"
Dulu, sampai sebelum masuk SMA, badannya boleh dibilang ideal. Tidak kurus, tidak juga gemuk. Mukanya juga bisa dibilang lumayan. Tetangga dan beberapa temannya pernah memberi komentar, "Eh, si Irfan tuh mirip ama Indra Brugmann loh." Dan saya hanya menjawab, "Idih, masa sih??"
Tapi sekarang, Masya Allaaahhh... Itu badan, perut khususnya, udah kaya bapak-bapak yang udah punya anak berapa aja. Belum lagi mukanya, walaupun masih ada teman saya yang menyebutnya "ganteng", tetap saja saya merasa mukanya "boros". Lha wong kalau habis bayar parkir sering dibilang "Pak" kok.
Nah, saya bermaksud baik dengan menyindirnya terus-terusan. Siapa tahu dia kesal dan akhirnya mau mulai rajin olah raga, syukur-syukur mengurangi porsi makannya. Tapi boro-boro. Yang ada, dia sekarang sudah punya kalimat balasan.
"Teh, lo ga pengen tinggi apa?"
Kurang ajar tuh anak. Huh. Kecil kan indah.
Oiah, saya memanggil adik saya itu dengan panggilan A', singkatan dari Aa, alias kakak. Aneh memang, tapi ada alasannya kok. Jadi saya memanggil dia Aa dan dia memanggil saya Teteh. Ah sudahlah. Yang penting sekarang saya harus mencari kalimat balasan lagi.
15:40 Permalink | Comments (4) | Email this
01/08/2006
Aku Hidup di Bawah Sutet Juga Kok...
Sore itu aku baru saja mendarat di Yogya. Sambil rebahan, sebentar melepas lelah sebelum malamnya pergi lagi, aku memindah-mindah channel tv sampai jariku terhenti waktu melihat berita aksi mogok makan itu.
"Sampai kapan Mas aksi mogok makan ini dilakukan?"
"Sampe tuntutan kita dipenuhi. Kalo ga, yah kita bakal terus, sampe mati. Toh hidup kaya sekarang juga bakal mati."
Jadi ceritanya, aksi mogok makan dengan menjahit mulut yang dilakukan oleh beberapa orang bapak itu, dilakukan karena mereka merasa dirugikan dengan adanya transmisi tegangan ekstra tinggi di daerah rumah yang ditinggalinya. Mereka menuntut ganti rugi. Sekilas itu yang bisa aku tangkap.
Berita seperti itu sebetulnya sudah pernah aku dengar sebelumnya. Katanya, masyarakat yang hidup di bawah jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi alias SUTET bisa terkena banyak penyakit, mulai dari gatal-gatal sampai gangguan otak. IQ bisa menjadi sangat rendah. Belum lagi perasaan takut, terancam, tidak aman, dan entah apalagi. Itu kan listrik tegangan ekstra tinggi!
Bukannya sok tahu, tapi kalau melihat pengalamanku sendiri, apa yang mereka bilang lumayan membuatku bertanya-tanya, curiga malah, jangan-jangan di balik aksi demo itu ada... ah entahlah.
Sebagai anak "tukang listrik", sejak TK sampai sekarang aku sudah lulus kuliah, aku tinggal di komplek perumahan para tukang listrik. Sudah hampir dua puluh tahun aku tinggal di rumah yang letaknya persis di bawah jaringan SUTET. Di bawah tegangan listrik 500 KV alias 500.000 volt. Bahkan seingatku ada beberapa tiangnya yang berdiri di atas taman bermain di tengah komplek. Tapi biar begitu, alhamdulillah, sampai sekarang aku masih baik-baik saja. Kalaupun pernah gatal-gatal, itu waktu aku digigit nyamuk atau waktu aku baru saja sembuh dari sakit cacar. Alhamdulillah juga organ dalam di kepalaku masih baik-baik saja, dan semoga begitu seterusnya. Lulus sekolah dan kuliah dengan nilai yang -alhamdulillah lagi- tidak mengecewakan cukup membuatku percaya kalau IQ-ku juga masih baik-baik saja. Begitu juga dengan orang tua, adik, tetangga, dan teman-temanku, -sekali lagi- alhamdulilllah mereka juga masih baik-baik saja.
Tanpa bermaksud untuk takabur, aku bisa bilang, "gapapa kok hidup di bawah Sutet". Sampai sekarang aku cukup percaya kalau jaringan listrik yang meresahkan itu tentunya dibuat dengan telah melalui banyak pertimbangan dan perhitungan yang tidak main-main. Tapi aku juga tidak mau menghakimi apa yang para demonstran itu telah dan sedang lakukan. Orang bebas berpendapat toh?
16:55 Permalink | Comments (7) | Email this

